HUT Kopasus Ke-70 Kandang Menjangan Wayangan, Budaya Adalah Pertahanan Terakhir Suatu Bangsa

banner 468x60
Share disini :

CAKRAWALA NUSANTARA.CO.ID | KARTASURA— Pagelaran wayang kulit yang diberi tagline Kandang Menjangan Wayangan adalah merupakan implementasi sinergis anak bangsa khususnya warga Kartasura dengan Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan serta AKBM ( Anak Korps Baret Merah ) yang terpanggil untuk berperan serta melestarikan seni budaya bangsa.

Dalam Rangka HUT KOPASUS Ke-70
Kandang Menjangan Wayangan.

“Nguri-Uri Warisan Budaya Bangsa”
“Budaya Adalah Pertahanan Terakhir Suatu Bangsa.”

Rabu Kliwon, 8 Juni 2022
Mulai Pukul 19.00 WIB s/d Selesai

Ki Dalang Danang Suseno
Putra Alm. Ki Mantep Sudarsono

Lakon : “Mbangun Candi Sapta Arga”
Spesial Bintang Tamu : Endah Laras

KRT. Djuyamto,SH,MH, memaparkan pada www.jurnalisnusantara-1.com secara khusus juga merupakan bentuk kado warga masyarakat Solo Raya pada HUT Kopassus ke-70.

“Dimana keberadaan pasukan khusus di bumi Kartasura menjadi kebanggaan warga masyarakat Kartasura. Selain itu juga menghadirkan rasa aman tenteram.” Tegas KRT. Djuyamto, SH. MH saat di konfirmasi www.jurnalisnusatara-1.com, Sabtu, (28/5/2022) melalui sambungan telepon.

“Apresiasi saya kepada Komandan Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan Kolonel (Inf ) Sabdono beserta jajarannya yang begitu responsif dan suport terhadap terselenggaranya pagelaran ini.” Imbuhnya.

“Antusiasme warga masyarakat juga nampak, barangkali karena pasca pandemi covid19 sudah lama tidak ada pagelaran seni budaya.” Tutupnya.

Ki Dalang Danang Suseno Putra Almarhum Ki Manteb Sudharsono saat dikonfirmasi www.jurnalisnusantara-1.com memaparkan tentang Lakon yang akan di bawakanya “Mbangun Candi Sapta Arga”.

“Mengisahkan para pandawa yang sedang berkumpul di pertapaan sapto argo dengan tujuan ingin merawat dan membangun keindahannya pertapaan sapto argo.” Tegasnya.

“Pandawa ingin membangun akan tetapi banyak pertentangan dari Raja Hastina bahkan dewa pun ikut tidak terima akhirnya menjadi salah paham.” Imbuhnya.

“Artinya sapto 7 tujuh argo itu gunung dan gunung 7 disebut rah tawu makna rah itu darah dan tawu itu tuntas jadi sapto argo berdiri di ibaratkan perjuangan para sesepuh dan leluhur sampai titik darah penghabisan.”

“Kesimpulan inti dari membangun memang butuh perjuangan dan pengorbanan pada dasarnya yang di bangun bukan secara fisik tapi dalam diri kita untuk selalu berbuat baik dan merawat melestarikan sejarah dari para pendahulu.”Pungkas Ki Dalang Danang Suseno.

Sumber: Lilik Adi Goenawan

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.