Jejak Sejarah Pertempuran Untung Surapati Lawan Pasukan Yang Tewaskan Kapten Tack Berada di Desa Singopuran

banner 468x60
Share disini :

CAKRAWALA NUSANTARA.CO.ID | SUKOHARJO– Geger penjebolan tembok Ndalem Singopuran di Desa Singopuran, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng) telah memantik reaksi keprihatinan publik, khususnya dari kalangan pemerhati budaya.

Terulangnya perusakan Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB) di wilayah Kartasura itu (sebelumnya bekas beteng Keraton Kartasura juga dirusak), Ketua Forum Budaya Mataram (FBM) BRM Kusumo Putro, mendesak Pemkab Sukoharjo segera membuat Perda tentang pembentukan dinas baru, khusus kebudayaan dan pariwisata.

“Kasus perusakan dua ODCB di wilayah Kartasura ini menandakan bahwa Sukoharjo dalam keadaan darurat budaya. Harus ada langkah cepat untuk penyelamatan sebelum semua menjadi terlambat. DPRD juga harus ikut turun melihat kondisi di lapangan,” katanya.

Heboh Perusakan Pagar Ndalem Singopuran di Sukoharjo, BPCB Jateng: Kewenangan Pelestarian ODCB Ditangan Dinas Daerah

Selama perjalanan kasus perusakan ODCB yang pertama di bekas beteng Keraton Kartasura hingga kejadian perusakan pagar Ndalem Singopuran, Kusumo menyatakan, belum pernah melihat maupun mendengar para wakil rakyat tersebut berbicara tentang ODCB yang dirusak itu.

“Karena kalau Perda ini nanti benar-benar akan dibuat oleh Pemkab Sukoharjo, tentunya akan melibatkan DPRD dalam pembahasannya. Nah sekarang, kalau mereka tidak mau datang melihat ke lokasi, terus bagaimana bisa tahu masalahnya,” tegasnya.

Dituturkan Kusumo, berdasarkan berbagai referensi sejarah yang dibacanya, keberadaan Desa Singopuran tempat Ndalem Singopuran berdiri, tidak dapat dilepaskan dari masa Kerajaan Kartasura sekira tahun 1680 -1742 silam.

Ketua FBM, BRM Kusumo Putro dilokasi Ndalem Singopuran yang sebagian temboknya dijebol/ Nugroho
“Ini artinya, Kartasura ini dulunya merupakan pusat pemerintahan kerajaan yang cikal bakal berdirinya Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Jadi Pemkab Sukoharjo harus serius agar obyek bersejarah ini tidak habis. Kalau sudah habis, sejarah apa yang akan kita sampaikan pada generasi sekarang,” sambungnya.

Dalam sejarahnya, dengan telah runtuhnya Kerajaan Mataram di Yogyakarta, maka Sunan Amangkurat I beserta keluarganya melarikan diri kearah utara termasuk puteranya yaitu Raden Mas Rahmat, sampailah mereka di hutan Wanakarta.

Dalam pelarian tersebut akhirnya Sunan Amangkurat I meninggal dunia. Namun ia telah mengangkat putera mahkota yaitu Raden Mas Rahmat sebagai Sunan Amangkurat II dan mendirikan kerajaan di bekas hutan Wanakarta (Kartasura-Red).

Sunan Amangkurat II ini adalah satu-satunya raja yang memakai pakaian kebesaran berupa jas dan dasi, maka sering disebut sebagai Sunan Amral dalam bahasa Belanda “Admiral”.

Sunan Amangkurat II memerintah dari tahun 1688 – 1703. Dalam masa pemerintahannya terjadi banyak pemberontakan-pemberontakan, diantaranya adalah pemberontakan Trunojoyo.

Kewalahan menangani pemberontakan Trunojoyo, Sunan Amangkurat II meminta bantuan kepada VOC atau Kumpeni, dengan kompensasi, VOC bebas melakukan perdagangan di wilayah pantai utara Jawa.

Akhirnya VOC berhasil menumpas pemberontakan Trunojoyo, namun imbasnya Kerajaan Kartasura menanggung hutang untuk biaya perang yang cukup besar.

Dengan menanggung hutang yang cukup besar, maka Sunan Amangkurat II mau tidak mau, suka tidak suka harus bekerja sama dengan VOC, sehingga keputusan-keputusan sering diintervensi oleh VOC.

Hal tersebut membuat beberapa punggawa kerajaan tidak senang, salah satunya adalah Patih Nerangkusuma. Patih Nerangkusuma berusaha memberi masukan kepada Sunan Amangkurat II untuk menghindari kerja sama dengan VOC, namun masukan itu diabaikan.

Hingga akhirnya pada tahun 1685, Patih Nerangkusuma menerima kedatangan Untung Suropati yang merupakan pemberontak. Untung Suropati datang untuk berlindung di rumah Patih Nerangkusuma.

Mengetahui keberadaan salah satu orang yang tengah dicari berada di Kartasura, maka VOC segera mengirimkan pasukan dibawah komando Kapten Tack dari Semarang untuk menumpasnya.

Mengetahui ada pengiriman pasukan VOC, maka Patih Nerangkusuma bersama Untung Suropati segera menghadap ke Sunan Amangkurat II untuk memohon maaf, dan setelah terjadi pembicaraan yang cukup lama, maka Sunan Amangkurat II memberi maaf kepada Patih Nerangkusuma dan Untung Suropati.

Dalam bahasa jawa orang yang memberi maaf adalah “Sing Ngapuro”. Tidak berapa lama Kapten Tack beserta pasukannya telah sampai di wilayah Kerajaan Kartasura

Untung Suropati beserta pengikutnya segera keluar dari Keraton Kartasura ke arah utara, di suatu tempat tersebut terjadilah peperangan yang cukup sengit dan akhirnya Kapten Tack dan pasukannya dapat dikalahkan dan dibunuh

“Tempat berlindungnya Untung Suropati dan pengikutnya, serta tempat terbunuhnya Kapten Tack tersebut adalah Singopuran, berasal, kata Singopuran itu konon berasal dari kata “Sing Ngapuro”. Ini memang perlu dikaji lagi tentunya oleh para ahli sejarah,” kata Kusumo.

Banyak situs-situs peninggalan dari bekas jaman Kerajaan Kartasura yang berada di Desa Singopuran, salah satunya adalah masih berdirinya pagar tembok batu bata Ndalem Singopuran di Singopuran RT.03/ RW.02 Kecamatan Kartasura.

“Maka dari referensi sejarah itu, mestinya Pemkab Sukoharjo tidak perlu menunggu terlalu lama dalam melakukan kajian untuk menetapkan situs -situs yang masih ada menjadi cagar budaya. Istilah Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) itu harus benar-benar di buktikan,” tandasnya. (Tim/Red)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.