Mudik dan Sangkan Paraning  Dumadi

banner 468x60
Share disini :

 

CAKRAWALA NUSANTARA.CO.ID | KARTASURA-Tahun 1995 adalah pengalaman mudik saya yang pertama sejak mengadu nasib di ibukota Jakarta. Saat itu bertepatan dengan satu tahun diterimanya saya sebagai PNS di Mahkamah Agung RI. Jangan dibayangkan suasana mudik sekarang ( di jaman 4.0 ini ) dengan mudik saat itu.

 

Kerinduan pada kampung halaman, pada orang tua, saudara dan teman-teman belum tergantikan oleh smartphone dan tehnologi informasi seperti saat ini.

Teringat betul bagaimana perjuangan untuk memperoleh tiket mudik bis di Terminal Pulogadung,antri hampir 7 (tujuh) jam sejak loket dibuka pukul 8 ( delapan ) pagi, baru lega setelah mengantongi tiket. Itu pun harus rela antri menunggu di depan loket sejak abis sahur. Silahkan googling bagaimana kondisi Terminal Pulogadung di jaman itu.

Preman maupun calo tiket benar-benar menjadi penguasanya. Tidak mudah untuk beroleh tiket mudik.

Usai memastikan tiket di kantong, yang saya lakukan adalah hunting oleh-oleh untuk ortu dan saudara di kampung ke Pasar Senen tepatnya di Matahari Bolong.

Istilah Matahari Bolong adalah tempat lapak para pedagang kaki lima menggelar dagangannya, bukan Matahari Mall.

Tahu tidak bahwa di jaman itu pulang mudik membawa oleh-oleh belanja berupa apa pun dari ibu kota adalah pertanda anak udik sudah jadi orang.

Mall maupun swalayan belum merambah ke daerah-daerah, sehingga sesuatu barang yang dibawa dari Jakarta adalah sesuatu yang luar biasa. Tak kurang ada 4 ( empat ) kardus ukuran kardus minuman mineral terisi oleh-oleh yang saya ikat pakai lakban dan agar mudah menjinjingnya saya bikin ikatan dari tali rafia.

Jangan dikira bis yang saya tumpangi itu bis mewah full AC. Cukup tiket bis PPD dengan kipas angin kecil di beberapa sudut plus tempat duduk plastik yang diisi total penumpang 45 orang plus kru bis 2 orang.

Durasi waktu tempuh sejak bis beringsut dari Terminal Pulogadung sampai Terminal Kartasura total 25 jam dengan beberapa kali istirahat dari yang seharusnya yaitu 12 jam. Jalan tol waktu itu baru ada sejak ruas Cakung sampai Cikampek, selebihnya jalan arteri biasa. Macet dong ? Sudah pasti !.

Alhasil selama perjalanan, di antara penumpang bertukar bau keringat yang campur aduk diputar-putar oleh pusaran kipas angin. Belum lagi ditambah aroma bau muntahan penumpang yang mabuk darat. Komplit lah sudah.

Namun semua “penderitaan” itu seakan lenyap tatkala terdengar takbir bersahutan dari mushola-mushola maupun masjid-masjid di sepanjang jalan. Dada penuh sesak oleh keharuan yang tak bisa digambarkan, mata membayang wajah kedua orang tua dan meja rumah yang penuh kue dan makanan. Benar-benar seperti tentara baru pulang usai memenangkan peperangan.

Maka ketika raga sudah benar-benar di hadapan orang tua banjirlah air mata membasahi tempat saya bersimpuh..

Tapi kini,setelah kedua ortu maupun mertua tiada, mudik saya seakan kehilangan sesuatu.
Sangat terasa ketika kehilangan asal muasal,kehilangan sangkan paran layaknya kehilangan tempat kembali ( mudik ).

Penulis : Dr (Canda) Djoeyamto Hadisasmito, SH.MH

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.