Pakde Pur Mantan Preman Kelas Kakap Setelah Sadar Bangun Masjid Wisanggeni

banner 468x60
Share disini :

CAKRAWALA NUSANTARA.CO.ID | SUKOHARJO--Tidak selamanya orang yang berkecimpung di dunia hitam akan terus berada di sana. Seperti salah satu warga di Kabupaten Sukoharjo, tepatnya di Dukuh Mulyosari, Desa Trangsan, Kecamatan Gatak.

Yang dimasa lalunya adalah seorang preman kelas kakap, kini telah sadar dan membangun masjid dengan nama Wisanggeni.

Muhammad Hadi Purnomo (69) atau sering disapa Pakde Pur dulunya dikenal sebagai warga yang berkecimpung di dunia hitam . Bapak tiga anak ini pernah menjadi bandar judi kelas kakap yang bisa menghasilkan uang hingga jutaan rupiah per harinya.

Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya ia berkecimpung di dalam dunia hitam , bahkan dari hasil premannya, pada tahun 1998 hingga 2004 Pakde Pur mengalami kejayaan. Namun, tak berselang lama saat semua perjudian di Indonesia harus bubar, maka berakhirlah pula dunia hitam yang ia geluti.

“Saya sempat galau karena tidak mempunyai pekerjaan, sementara hidup harus dilanjutkan dan akhirnya dengan modal keberanian, saya berjualan sampah dan mencari sampah- sampah bekas lalu disetorkan ke pengepul, semua itu saya lakukan sendiri,” Kata Pakde Pur, Jumat,(10/06/2022) saat di konfirmasi awak media.

Dari usaha kecil yang semula ia sopiri sendiri, kini usahanya berkembang hingga memiliki 60 karyawan. Dari situlah jalan hidupnya berubah menjadi lebih baik. Bahkan ia bisa menabungkan sebagian rezekinya selama 12 tahun untuk membuat sebuah masjid.

“Selama 12 tahun, sejak tahun 2004 – 2015 saya terus menabung karena saya berkeinginan membangun masjid, hingga akhirnya ditahun 2015 masjid mulai saya bangun,” terang dia.
Dalam kurun waktu delapan bulan, masjid tersebut selesai dibangun dan diberi nama Masjid Wisanggeni yang berarti Hamba Allah yang jujur dan kaya. Meski dibangun oleh seorang mantan preman yang ditakuti, namun masjid ini makmur.

Sejak selesai dibangun hingga sampai saat ini, masjid miliknya selalu dipenuhi oleh warga sekitar dalam berbagai kegiatan. Setiap bulan Ramadhan ini, ia sering membagikan beras dan mengadakan buka puasa bersama anak yatim setiap hari di kompleks Masjid Wisanggeni yang bersebelahan dengan rumahnya.

Anggaran yang dikeluarkan untuk bersodaqoh dalam satu tahun bisa mencapai 1 miliar lebih. Semua itu saya lakukan karena Ridho Allah,” tutur dia.

“Saya menyempatkan berkunjung ke Masjid Wisanggeni saat berada di Kartasura dan tampak sesuatu yang beda, selesai jamaah sholat jumat para jamaah disediakan nasi bungkus dan snack.” Ujar Pimred Jurnalis Nusantara-1.

“Pakde Pur telah membuktikan bahwa seorang preman kelas kakappun bisa berubah karena proses berjalannya waktu menjadi sosok panutan yang dermawan. ” Imbuhnya.

“Menurut saya ini merupakan motivasi bagi banyak orang yang meninspirasi menuju jalan Kebaikan, dari preman kelas kakap banting stir menjadi pengepul sampah dan menjadi dermawan yang menyantuni yatim piatu. ” Pungkasnya. (Tim/Red)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.