Perjalanan Napak Tilas Jurnalis Menuju Petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro

banner 468x60
Share disini :

CAKRAWALA NUSANTARA.CO.ID | KARTASURA–Tak banyak yang tahu Ki Ageng Kebo Kanigoro pewaris dinasti Majapahit yang menjalani hidup sunyi di lereng Gunung Merapi, adalah guru spiritual dan olah kanuragan kesaktian Joko Tingkir.

CEO PT. Jurnalis Indonesia Satu Lilik Adi Goenawan, S.Ag melakukan ritual napaktilas tilas ke Petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro di dampingi Agung Nugroho (Nugie) pada Minggu, (12/6/2020).

Diawali napak tilas ziarah ke makam Sri Makurung Handayaningrat atau yang di kenal dengan nama Ki Ageng Pengging Sepuh.

Ki Ageng Pengging Sepuh adalah Ayah dari Ki Ageng Kebo Kanigoro dari Ki Ageng Pengging alias Kebo Kenongo dan Nyi Ageng Tingkir.

“Setelah kami selesai napak tilas di Malam Ki Ageng Pengging Sepuh dilanjutkan ke Makam Ki Ageng Kebo Kenongo ayahanda Joko Tingkir (Maskarebet) .” Ujar Pimred Jurnalis Nusantara Satu.

“Ki Ageng Kebo Kanigoro, semenjak kecil memang memilih mengasingkan diri dari kekayaan dan kemapanan hidup Istana Kadipaten Pengging.” Tegasnya.

Putra pertama Adipati Pengging, Handayaningrat lebih dikenal juga Ki Ageng Pengging Sepuh, ini lebih suka mengembara ke hutan belantara sambil mencari guru spiritual dan olah kanuragan.

Hingga ayahandanya ‘lengser keprabon’ dari kekuasaannya, Ki Ageng Kebo Kanigoro memutuskan menyerahkan tahta penerus Kadipaden Pengging kepada Ki Ageng Kebo Kenongo, adik kandungnya yang juga trah Raja Majapahit Brawijaya V.

Sejak saat itulah, Ki Ageng Kebo Kanigoro yang secara adat dinasti Kerajaan Majapahit bertahta sebagai Adipati Pengging, lebih memilih menjalani hidup sunyi menjadi pertapa muda di lereng Gunung Merapi.

Namun demikian, bukan berarti Ki Ageng Kebo Kanigoro acuh tak acuh terhadap permasalahan pelik yang menimpa keturunah Brawijaya V, terutama yang terkait Kadipaten Pengging dan keluarga besarnya.

” Kami sampai di Petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro dikaki Gunung Merapi sore hari dengan merasakan kedamaian yang luar biasa dan tak lupa memanjatkan doa pada Tuhan YME dan para leluhur di petilasan yang terasa amat sakral.” Ujarnya.

” Bukan tanpa alasan tentunya perjalanan napak tilas yang kami lakukan selepas suksesnya Pagelaran Budaya 2022 ,Wayang Kulit Kandang Menjangan, Semoga Kita sebagai generasi penerus bangsa bisa mengambil pelajaran dari kejayaan leluhur nusantara.” Pungkasnya. (Tim/Red).

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.