Untuk Pelestarian Budaya Otonomi Khusus Kota Solo Sangat Penting Segera Direalisasikan

banner 468x60
Share disini :

cAKRAWALA NUSANTARA.CO.ID | SOLO RAYA–Tokoh masyarakat Kota Solo Dr. BRM Kusumo Putro, SH, MH menilai kota bengawan kini dalam keadaan krisis budaya.

Ditandai dengan banyaknya aksi intoleran di Kota Solo merupakan dampak dari krisis budaya.

“Gonjang ganjing Keraton Solo yang sampai saat ini belum selesai adalah contoh nyata, selain itu semakin sedikit masyarakat yang melestarikan tradisi kearifan lokal.” kata BTM Kusumo saat di konfirmasi awak media, Selasa (5/7/2022).

“Ada dua faktor yang membuat krisis budaya di Kota Solo yang pertama masyarakat abai dan perhatian Pemkot Solo kurang,” tegasnya.

Kusumo memaparkan dahulu terdapat 38 sanggar tari di Kota Solo, namun kini hanya ada beberapa saja yang mampu bertahan.

“Mereka kolaps karena tidak mempunyai anggaran untuk biaya operasional dan tidak punya tempat latihan,” ungkapnya.

Menurutnya, hal tersebut adalah contoh nyata dalam krisis budaya yang dihadapi Kota Solo.

” Kota Solo mempunyai Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) tapi itu milik Provinsi Jawa Tengah bukan milik Pemerintah Kota Solo, dulu kita punya Sriwedari dan Joglo Sriwedari yang digunakan latihan sanggar tari, namun sekarang tidak ada lagi sehingga para pelatih sanggar dan anak-anak yang berlatih tari kebingungan mencari tempat latihan. Mau berlatih di TBJT sulit karena itu memang bukan milik Pemerintah Kota Solo,” bebernya.

Kusumo berharap Pemkot Solo, Pemprov Jateng dan Kementrian Kebudayaan lebih memperhatikan nasib budaya yang menjadi roh Kota Solo.

Sanggar-sanggar tari tersebut, masih menurut Kusumo lama kelaamaan akan hilang ditelan zaman.

“Sekarang hanya sanggar besar yang bisa bertahan, akhirnya nanti jika tidak ada perhatian dari semua pihak, Solo akan kehilangan roh sebagai kota budaya,” jelasnya.

Kusumo berpendapat Kota Solo sudah saatnya mendapatkan Otonomi Khusus (Otsus).

“Otonomi khusus bukan Daerah Istimewa Solo (DIS). Sudah saatnya Kota Solo bisa mengelola budaya, dengan status Otsus maka pemkot akan punya kewenangan mutlak,” ungkapnya.

Kusumo menambahkan Kota Solo mempunyai jasa besar dalam perjalanan Republik Indonesia. Dia mencontohkan bagaimana Paku Buwono VI membantu perjuangan Pangeran Diponegoro, Paku Buwono X yang merupakan pahlawan nasional turut andil besar dalam memerdekakan bangsa Indonesia, Paku Buwono XII merupakan raja pertama yang bergabung dalam wadah NKRI dan sosok pemuda gagah berani bernama Slamet Riyadi yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

“Otonomi khusus dalam rangka menyelematkan budaya Kota Solo.Kami yakin jika Kota Solo sudah kehilangan budaya maka wisatawan sudah tidak akan ada yang datang ke Solo,” tegasnya.

Kusumo menegaskan OTONOMI KHUSUS untuk Pelestarian Budaya bagi Kota Solo sangat Penting segera Direalisasikan karena selama ini Anggaran yang dikucurkan oleh Pemerintah Pusat ke Pemerintah daerah Kota Solo masih sangat Kecil / Minim sehingga Upaya Pemerintah daerah untuk Pelestarian Budaya bangsa yang sangat Adiluhung yang ada di Kota Solo saat ini belum sesuai Harapan yang diinginkan oleh Warga Kota Solo.

“Contohnya hingga saat ini Kota Solo tidak memiliki Gedung Kesenian, tidak mampu membiayai Sanggar- Sanggar Tari Tradisional terkait anggaran Pelatihan, Perlengkapan sanggar, Anggaran Event- Event Budaya dan lain-lain. Untuk ketahanan dan pelestarian budaya Bangsa, Pemerintah Pusat jangan pernah hitung-hitungan dalam Pemberian Anggaran, Berapapun Anggaran yang Dibutuhkan harus diberikan karena Budaya adalah Identitas Bangsa Indonesia,” Pungkasnya. (Tim/Red).

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.